PERANAN AGAMA DAN PSIKOLOGI DALAM MELAKSANAKAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Juni 13, 2008 at 3:15 pm (BIMBINGAN DAN KONSELING) ()

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan agama pastilah terdapat berbagai macam problem baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini sangat lah memerlukan perhatian khusus dari guru agama, karena guru agama dianggap sebagai kunci sentral dalam membendung dan memfilter pengaruh negatif dari luar, karena kita mengetahui suatu hal yang paling urgen dampaknya. Dalam hal ini adalah kenakalan remaja.

Oleh karena itulah kelompok kami akan membahas dan mengupas peranan agama dan spikologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling, sesuai dengan referensi yang kami dapatkan dan bermanfaat untuk kami kembangkan, pertamanya kami acuh tak acuh terhadap pokok bahasan ini karena teori- teori yang banyak dikembangkan di buku- buku bimbingan dan konseling adalah teori barat yang sangat minim sekali pada peribahan bimbingan dan konseling dalam sudut pandang islam.tapi rasab acuh tak acuh itu berkembang menjadisebuah kesadaran untuk memotifasi kami membuat suatu makalah yang sangat urgen ini,karena kami menganggap diri kami sebagai kaum intelektual muslim yang masih tahap belajar sering mendapat suatu pertanyaan-pertayaan” dimnakah peranan agama dan nilai budaya (Moral) dlam pengembangan anak?”.

Dan diri kami tersentuh dan bertanya tiada henti, ketika seorang remaja muslim sudah tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di dalam dirinya dan menghianati apa yang telah ia pelajari mulai awal tentang agama norma tersebut.

Maka dari hal itulah kami merumuskan beberapa masalah diantaranya adalah

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimanakah perkembangan jiwa keagamaan pada anak?

1.2.2 Seperti apakah metode bimbingan dan konseling yang dapat di terapkan dalam keagamaan?

1.2.3 Bagaimanakah perranan guru agama sebagai pendidik dan pembimbing?

1.2.4 Seperti apakah program khusus bimbingan agama bagi penanggulangan kenakalan remaja?

1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui perkembangan jiwa keagamaan pada anak.

1.3.2 Mengetahui metode dan bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan dalam keagamaan.

1.3.3 Mengetahui peranan guru agam sebagai pendidik dan pembimbing.

1.3.4 Mengetahui program khusus bimbingan agama bagi penanggulamgan remaja.

BAB II

PEMBAHASAN

Artinya : “Dan sesungguhnya kamu akan dapat membimbing kepada jalan yang lurus ( Qs Asy syura :52).

اِنَّ اَحَبَّ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِلىَاللهِ عَنْ وَجَلَّ مَنْ نَصَبَ فِى طَاعَةِ اللهِ عَنْ وَجَلَّ وَنَصَحَ لِعِيْبَادِهِ وَكَمُلَ عَقْلُهُ وَنَصَحَ نَفْصُهُ فَاَبْصَرَ وَعَمِلَ بِهِ اِيَّامَ حَمَلَ تِهِ فَاَفْلَحَ وَاَنْجَحَ.

Artinya: “Sesungguhgnya orang mukmin yang paling dicintai oleh ALLAH ialah orang yang senantiasa tegak taat kepadanya.dan memberikan nasehat kepada hambanya, semua akal dan fikirannya serta menasehati pula akan dirinya sendiri; menaruhperhatian dan mengamalkan ajarannya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan pulahlah ia.( Hadits dari ibnu Abbas).

Firman Allah dan sabda Nabi Muhammad tersebut diatas memberikan petunjuk kepada kita bahwa bimbingan dan konseling di samping perlu di lakukan terhadap orang lain karena memang di mungkinkan keberhasilannya, juga demikian di pandang sebagai salah satu ciri dari jiwa orang beriman.

Bimbingan konseling agama adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikanbantuan terhadap orang lainyang mengalami kesulitan- kesulitan rohaniah dalam lingkungan hidupnya agar supaya orang tersebut mampu mengatasinya sendiri karena timbul kesadaran atau poenyerahan diri terhadap kekuasan Tuhan yang maha esa.

Jadi jelasnya bahwa bimbingan dan konselingagama dilaksanakan maka sasarannya sudahbarang tentu memberikan kecerahanbatin sesuai dengan jiwa ajaran Agama

Baimbinga Islami adalah proses pemberian bantuan yang terarah, kontiniu dan sistematis pada setiap individu agar ia dapat mengembangkan potensi atau fitrah beragam yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginernalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadits ke dalam diri. Sehingga ia dapat hidip selaras dan sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadits.

Konseling islami adalah suatu usaha membantu individu dalam menanggulangi penyimpangan perkembangan fitrah beragama yang di milikinya, sehigga ia menyadari peranannya sebagai kholifdah di muka bumi.

1. Perkembangan Kejiwaan Pada Anak

Guru Agama dalam menjalankan tugasnya sebagai konselor/ pembimbing Agama disamping perlu menyadari langkah-langkahnya dengan sumber ajaran Agama juga dalam proses kounseling perlu memperhatikan perkembangan jiwa keagamaan pada anak bimbing.

Oleh karena itu tugas pengamatan yang pertama-tama harus di lakukan oleh guru Agama saebagai kounselor ialah pengamatan langsung pada situasi dan sikap Agama pada keluarga serta lingkungan hidup anak bimbing yang selanjutnya dijadikan bahan dasar pengartian di dalam melaksanakan tugas sesuai dengan metode mana yang hendak dipakai dalam proses bimbingan dan konselingagama itu.

1.1 Perkembangan Hidup Pada Anak Tingkat Sekolah Dasar.

a. Pada usia 6 tahun penertiannya terhadap Agama menjadi makin kuat, apalagi bilamana praktek ibadah selalu di berikan kepada mereka, hubungan dengan tuhan sangat bersifat pribadi atau personal mereka, senang berdoa dengan sepenuh hati.

b. Usia 7 sampai 10 tahun mereka mulai memperoleh sikap yang lebih matang terhadap aghama. Mereka lebih ingin mengetahui tentang tuhan dan banyak mengajukan pertanyaan tentang hal tersebut.

Oleh sementara ahli didik, periode usia inilah duianggap merupan masa- masa peka terhadap penidikan agama, oleh karenanya sangat mudah untuk di pengaruhi oleh guru Agama.

c. Usia 10 sampai 12 tahun anak telah benar-benar dapat menghayati cerita serta peristiwa- peristiwa yang mengandung kegiatan (spiritual) seperti kematian dsb.

Dalam periode inilah guru agama sebagai konselor dapat melakukan bimbingan dan konseling melalui pendekatan situasional (kematian , bencana alam dll).

Perasaan itu perlu dikembangkan melalui partisipasi dalam kegiatan keagamaan seperti sembahyang berjamah, panitia hari besar agama serta organisasi dan kegiatan- kegiatan keagamaan lainnya.

1.2. Perkembangn Hidup Keagamaan Pada Anak Tingkat SLTP.

Anak pada tingkat pendidikan sltp telah memasuki masa pubertas yang oleh para ahli psikologi di anggap masa usia dimana peasaamn keagamaan mul;ai terbentuk dalam pribadinya. Masa pubertas tersebut dialami oleh mereka sebagai permulaan timbulnya kegoncangan batin yang sangat memerlukan tempat perlindungan jiwa, yang mampu memberikan pengarahan positif dalam perkembangan hidup selanjutnya.

Kekosongan batin dalam kegoncangan jiwa sangat terbuka kepada pengaruh nilai- nilai keagamaan yang di bimbing oleh konselor yang me3njadikan dirinya sebagai pelindung atau penyelamat baginya.

1.3. Perkembangan Keagamaan Pada Anak Tingkat SLTA

Demikian pula pada anak tingkat pendidikan SLTA sering terjadi konflik batin yang tidak mereka ketahui jalan keluarnya, dan konflik demekian memerlukan bantuan pencerahan atau penyelesaian dari konselor yang meletakkan dirinya sebagai petunjuk jalan keluar.

Penyaluran nafsu-nafsu yang berejolak dalam pribadi mereka perlu diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat sublimatif sepeti kegiatan olahraga, seni budaya dan organisasi yang terkendalikan.

2. Metode Bimbingan Dan Konseling Yang Dapat Diterapkan Dalam Keagamaan

Para pembimbing keagamaan memerlukan beberapa metode yang dapat menghampiri sasaran tugasnya antara lain:

2.1 Metoe Interview (wawancara)

Interview adalah suatu metode untuk mendapatkan data dengan mengadakan wawancara secara langsung.

2.2 Metode kelompok

Yaitu metode yang diakukan diluar kelas atau jam pelajaran yang meliputi karya wisata, diskusi kelompok, osis, dan sosio drama.

Dengan menggunakan kelompok, pembimbing dapat menggembangkan sikap sosial (relasi sosial)

2.3 Metode Non Directif (Tidak Mengarahkan)

Dalam metode ini terdapat dasar pandangan bahwa klient sebagai mahluk yang bulat yang memilii kemampuan berkembang sendiri dan sebagai pencari kemantapan diri sendiri.

Dr. Willam E. Hulme metode ini sangat cocok di gunakan oleh penyuluh Agama, karena kondelor akan lebih memahami kenyataan penderitaaan klient yang biasanya bersumber pada perasaan dosa yang banyak menimbulkan perasaan cemas, konflik kejiwaan dan gangguan jiwa lainya.

2.4 Metode directive conseling

Directive conseling merupakan bentuk psikoterapi yang paling sederhana, karena counselor dapat secara langsung memberikan jawaban terhadap problem yang o;eh klient disadari menjadi sumber kecemasannya.

2.5 Metode educatif (pencerahan)

Metode educatif adalah pemberian pencerahan terhadap unsur-unsur kejiwaan yang menjadi sumber konflik seseorrang dan selanjutnya koonselor menganaliisa fakta kejiwaan klient untuk penyembuuan.

Dalam hubungan dengan penggunaan metode tersebut di atas guru agama sebagai orang yang hrus melakukan bimbingan dan konseling dalam agama perlun juga menjiwai langkah- langkahnya dengan sumber – sumber petunjuk aghama misalnya :

“Maka di sebabkan Rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan bermusyawarqahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabbila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allaah menyukai mereka bertawakkal kepadanya.. ( Qs Ali imron 159)”

Disamping itu prinsip pendekatan yang telah diajarkan nabi kepada Abbu musa Al- Asyaary dan Muadz bin–Jabal ketika hendak beerangkat ke Yaman untuk menunaikan misi khusus :

“‘Permudahlah jangan mempersukar dan gembiralah ( bbbesarkan jiwanya) dan jangaan melakukan tindakan yang menyebbabbbkan mereka lari pada-Mu” (Al Haditst).

3. Guru Agama Sebagai Pendidik Dan Pembimbing

Tugas dan fungsi guru dalam proses kependidikan disekolah (Madrasah) tidak hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan semata-mata melainkan juga betugas sebagai pendidik dan pembimbing atau konselor.

Menurut beberapa ahli bahwa bimbingan dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dalam proses, terutama yang berkegiatan dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

Pada umumnya para ahli memandang bahwa konselor agama menempuh berbagai jalan atau cara yang lebih sulit dari pada menjadi konselor dibidang lain yang non agama; karena konselor agama harus memiliki beberapa persyaratan khusus, antara lain kematangan jiwa dan keimanan yang tangguh serta berkemampuan menjadi uswatun hasanah (contoh teladan) sesuai norma-norma ajaran agamanya, baik dilingkungan sekolah naupun diluar sekolah.

Di lihat dari segi missioner, jabatan guru agama dapat dikatakan sebagai reeping (panggilan tuhan) untuk berbakti kepada tuhan dengan fungsinya yang amat penting bagi pembinaan iman melalui proses kependidikan individual manusia.

Dalam pandangan islam, seseorang iman atau ulama secara built-in (melekat), juga di pandang oleh para pengikutnya, selain sebagai guru agama dan pendidik juga sebagai penyuluh atau konselor agama yang tugasnya menjadi guru penerang, pemberi, petunjuk jalan arah kebenaran, juru pengingat, juru penghibur hati duka, serta muballig yang perilaku sehari-harinya mencerminkan uswatun hasanah di tengah ummatnya. Sebagaimana halnya fungsi nabi Muhammad SAW yang di utus menjadi mu’allim (guru) dan pendidik akhlak al-karimah. Sebagaimana sabda beliau yang artinya: “aku diutus untuk menjadi guru” dan sabdanya lagi:”‘ saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mullia”

4. Program Khusus Bimbingan Agama Bagi Penanggulangan Kenakalan Remaja

2.4.1 Kenakalan Remaja Sebagai Suatu Problema.

Dalam melihat masslah ini kita perlu membedakan manakah yang kita kategorikan kenakalan dengan bukan kenakalan.

Kenakalan remaja adalah tingkah laku atau perbuatan yang berlawanan dengan hokum-hukum yang berlaku yang dilakukan oleh anak-anak dari antara umur 10 tahun sampai dengan 18 tahun. Perbuatan yang dilakukan oleh anak-anak dibawah usia 10 tahun dan diatas 18 tahun dengan sendirinya tidak di kategorikan dalam apa yang kita sebut “kenakalan”

Tingkah laku anak remaja yang dipandang kenakalan karena

a. Mengangu tertib sosial dan hokum

b. Merugikan perkembangan generasi muda itu sendiri

c. Menggangu jalanya perkembangan sosial paedegogis, ekonomi, dan kebudayaan dan sebagainya

2.4.2 Faktor- faktor yang Mengakibatkan Kenakalan Remaja

a. Faktor lingkungan

1. Keadaan ekonomi masyrakat

2. Masa daerah peralihan

3. Keretakan hidup keluarga

4. Praktek mengasuh anak

5. Pengaruh teman sebaya

6. Pengaruh pelaksanaan hokum (kurang dapat di pertanggung jawabkan)

b. Faktor Kepribadian

1. Penyakit syraf

2. Dorongan nafsu

3. Penilaian yang tidak tepat kepada diri sendiri dan orang lain (buta moral)

4. Pandangan terhadap diri sendiri yang negatif.

dalam hubungannya dengan kkenakalan remaja yang telah di uraikan diatas maka pendidik agama sebagai konselor di samping perlu memahami berbagai faktor penyebabnya perlu pula mengambil langkah-langkkah prreventif (mencegah) dan kuratif (mengobati) yang meliiputi prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Di lingkungan sekolah hendaknya bekerja sama dengan guru d bidang lain

2. Berusaha membina kerjasama dengan Biro konsultasi remaja yang ada, dan pejabat peradilan anak atau kepolisian bidang pengawasan anak.

3. Bila mana terjadi kenakalan didalam limgkungan tanggung jawabnya, maka berusahalah melakukan pendekatan kepada remaja yang bersangkutan.

4. Hendaknya mempolakan rencana program pencegahan dilingkungan sekolah dengan kegiatan diskusi.

5. Berusaha membina hubungan kkerja sama dengan orang tua murid yang sebaik-baiknya.

6. Dalam rangka pencegahan, hendaknya konselor agama berusaha mengisi acaara koonseling di pusat-pusat kegiatan remaja. Misal: karang taruna dalam organisasi remaja.

7. Berusaha menghindarkan remaja dari pengaruh mass media yang mengandung unsur mmerusak moral. Missal: majalah porno.

Akan tetapi yang penting perlu diingat konselor agama senantiasa menanamkan pengeertian kepada remaja bahhwa kaum reemajapun dapat beriman yang teguh dan beraagama yang taat, sebagaimana dilukiskan oleh allah dalam firmannya tentang pemuda al-kahfi:

Artinya: “Sesungguhnya meereka adalah kaum remaja yang teguh beriman dan aku tambah kepada mereka petunjuk. (QS Al-kahfi:13).

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bimbingan dan penyuluhan agama adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka memberikan bantuan kepada orang lain yang mengalami kesulitan-kesulitan rohaniyah sesuai dengan ajaran agama.

3.1.1 Perkembangan jiwa keagamaan anak

a. Tingakat usia Sekolah Dasar

b. Tingkat usia SLTP

c. Tingkat usia SLTA

3.1.2 Metode bimbingan dan konseling yang dapat diterapkan dalam keagamaan

a. Interview (wawancara)

b. Kelompok

c. Non directive (tidak mengarahkan)

d. Directive

e. Educatif

3.1.3 Guru agama Sebagai Pendidik dan Pembimbing

Dilihat dari segi missioner jabatan guru agama dapat dikatakan sebagai reeping (Panggilan Tuhan) untuk berbakti kepada tuhan dengan fungsinya yang amat penting bagi pembinaan iman melalui proses kependidikan individual manusia.

3.1.4 Program Khusus Bimbingan Agama Bagi Penanggulangan Kenakalan Remaja.

a. Kenakalan remaja sebagai problema.

b. Faktor yang mengakibatkan knakalan remaja

c. Tindakan seorang guru agama dalam pencegahan dan pengobatanya.

3.2 Saran

Dalam pembuatan dan perumusan makalah, kami yang sangat sederhana, tentulah banyak suatu kekurangan yang akan timbul. Apabila makalah kami diteliti oleh seseorang ahli ataupun pembaca yang budiman, hal ini terjadi karena memang kami masih dalam proses belajar. Dengan kondisi dunia keilmian yang bersifat dialektikan maka suatu karya pastilah terdapat kekurangan.

Oleh karena itulah sebagai intelektual yang terus belajar menuju suatu kebenaran yang subtansial, maka kami berharap kepada pembaca yang budiman agar memberikan saran yang konstruktif sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

ARIFIN, H.M.1997. Pokok Pikiran Tentang Bimbingan dan Penyuluhan Agama. Jakarta. Bulan Bintang

Hallen A, Dra. 2002. Bimbingan dan Konseling.Jakarta. Ciputat Pres

Umar, H.M. 2001. Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung. Pustaka Setia.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: