DILEMA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Juni 15, 2008 at 2:12 pm (PENDIDIKAN ISLAM) ()

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada perkembangan pendidikan islam di indonesia seperti di anak tirikan baik dari segi dana, maupun kelembagaan. Di satu sisi ada pendidikan umum di bawah dinas pendidikan yang cukup di beri perehatian lebih oleh pemerintah karena di anggap mewakili generasi pembangunan pada suatu bangsa, sedangkan pendidikan islam yang di bawah departemen agama dari sokongan dana dan kelembagaan kurang begitu terjamin hal ini terlihat ketika di sekolah tinggi agama islam negeri jember terdapat suatu permasalahan, yaitu salah satu program studi di jurusan tarbiyah yaitu pendidikan guru madrasah ibtidaiyah(PGMI) tidak mempunyai surat ijin beroperasi, jadinya banyak mahasiswanya yang bterlantar, sampai-sampai mahasiswa sendiri yang pergi ke departemen agam pusat,dan di sana pun mereka tidak mendapat suatu kepastian. Maka dari hal inilah terlihat bahwa dukungan pemerintah terhadap pendidikan islam di indonesia sangatlah kurang dan pemerintah memang menomerduakan pendidikan islam, maka dari itulah kami akan mengkaji sebuah kebenaran dalam pendidikan islam di indonesia.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Bagaimakah pendidikan islam pada sekolah umum?

1.2.2 Bagaimanakah pendidi kan islam pada madrasah?

1.2.3 Bagaimanakah kurikulum pendidikan islam di indonesia?

1.2.4 Bagaimanakah pendidikan islam dalam satu sistem pendidikan nasional?

1.3 TUJUAN

1.3.1 Mengetahui pendidikan islam pada sekolah umum.

1.3.2 Mengetahui pendidikan islam pada madrasah.

1.3.3 Mengetahui kurikulum pendidikan islam di indonesia.

1.3.4 Mengetahui pendidikan islam dalam satu sistem pendidikan nasional.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. PENDIDIKAN ISLAM PADA SEKOLAH UMUM

Banyak usaha yang dilakukan oleh para ilmuan dan ulama karena memperhatikan pelaksanaan pendidikan agama di lembaga-lembaga pendidikan formal kita, misalnya dalam forum-forum seminar sereta berbagai forum pertemuan ilmiah lainnya. Para ilmuan dan ulama serta teknokrat sepakat bahwa pendidikan agama di tanah air kita harus di sukseskan semaksimal mungkin sejalan dengan lajunya pembangunan nasional.

Namun, dalam pelaksanaan program pedidikan agama di berbagai sekolah di indonesia, belum berjalan seperti yang di harapkan, karena berbagai kendala dalam bidang kemnampuan pelaksanaan metoder, sarana fisik dan non fisik, di samping suasana lingkungan pendidikan yang kurang menunjang kurang menunjang suksesnya pendidikan mental-spiritual dan moral.[1]

2.1.1. FAKTOR –FAKTOR EKSTERNAL

a. Timbulnya sikap orang tua di beberapa lingkungan sekitar sekolah yang kurang menyadari pentingnya pendidikan agama.

b. Situasi lingkungan sekitar sekolah di pengaruhi godaan-godaan setan dalam berbagai macam bentuknya, seperti: judi, dan tontonan yang menyenangkan nafsu.

c. Serbuan dampak dari kemajuan ilmu dan teknologi dari luar negeri semakim melunturkan perasaan reli8gius dan melebarkam kesenjangan antara nilai tradisional dengan nilai rasional teknologis.

2.1.2. FAKTOR-FAKTOR INTERNAL SEKOLAH

Perangkat input instrumen yang kurang sesuai dengan tujuan pendidikan menjadi sumber kerawanan karena:

  1. Guru kurang kompeten untuk menjadi tenaga profesional pendidikan atau jabatan guru yang di sandangnya hanya merupakan pekerjaan alternatif terakhir, tampa ada rasa dedikasi sesuai tuntutan pendidikan.
  2. Hubungan guru agama dengan murid hanya bersifat formal, tampa berlanjut dalam situasi informal di luar kelas.
  3. Pendekatan metodologi guru masih terpaku pada orientasi tradisional sehingga tidak mampu menarik minat murid pada pelajaran agama.
  4. Belum mantapnya landasan perundangan yang menjadi dasar terpijaknya pengelolaan pendidikan agama dalam sistem pendidikan nasional, termasuk pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan islam.[2]

2.2. PENDIDIKAN ISLAM PADA MADRASAH

Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah sudah ada sejak agama islam berkembang di indonesia, madrasah itu tumbuh dan berkembang dari bawah, dalam arti masyarakat(umat) yang didasari oleh rasa tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran islam kepada generasi penerus. Oleh karena itu madrasah pda waktu itu lebih di tekankan pada pendalaman ilmu-ilmu islam.

Lembaga pendidikan dalam bentuk madrasah jumlahnya cukup banyak, tetapi terbesar berstatus swasta, yakni lebih kurang 96,4% sedangkan yang berstatus negeri hanya lebih kurang 3,6%.[3]

Di indonesia madrasah sebagai lembaga pendidikan islam dalam proses perkembangannya telah mengalami strategi pengelolaan dengan tujuannya yang ber5ubah di sesuaikan dengan tuntutan zaman. Pada zaman sebelum prolamasi kemerdekaan, madrasah di kelola untuk tujuan idealisme ukhrawi semata , yang mengabaikan tujuan duniawi sehingga posisinya jauh berbeda dengan sistem sekolah yang didirikan oleh belanda.

Produk atau output sekolah itu semakin memperlebar jurang pemisah dari output pendidikan madrasah. Akibatnya dalam kehidupan kewarganegaraan, timbullah perbedaan kualitas hidup,sikap dan cara berfikir dan orientasinya mengalami perbedaan yang mencolok.

Oleh karena itu, seiring dengan tuntutan kemajuan msyarakat setelah proklamasi kemerdekaan 1945, madrasah yang eksistensinya tetap di pertahankan dalam masyarakat bangsa, di usahakan agar vstrategi pengelolaannya semakin mendekati sistem pengelolaan sekolah umum, bahkan secara pragmatis semakin berintegrasi dengan program pendidikan sekolah umum. Demikian juga sekolah umum harus semakin dekat kepada pendidikan agama.[4]

2.3. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

pendidikan islam formal di indonesia secara garis besar dapat di bedakan menjadi dua buah yaitu:sistem madrasah dan sistem pendidikan pondok pesantren.[5]

2.3.1. sistem madrasah

2.3.1.1. madrasah diniyah

artinya adalah sekolah agama sesuai dengan namanya sekolah ini di ajarkan pelajaran-pelajaran agama, madrasah ini memiliki tiga tingkatan yaitu:

a. madrasah diniyah awaliyah, yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama islam tingkat permulaan, masa belajar empat tahun.

b. Madrasah diniyah wastha ialah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama islam tingkat lanjutan pertama, lama belajarnya dua tahun.

c. Madrasah diniyah ulya ialah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama islam tingkat lanjut atas, masa belajarnya dua tahun.

Sehubungan dengan itu maka mata poelajaran yang di berikan di madrasah ini adalah:

1. al-qur’an, tafsir,dan tajwid

2. hadits, ilmu hadits

3. tauhid/aqidah

4. fiqih, ushul fiqih

5. tarih

6. bahasa arab

7. akhlak

2.3.1.2. Madrasah

Madrasah ini terdi dari tiga tingkat, yaitu:

a. madrasah ibtidaiyah.[6]

Madrasah ini setingkat dengan sekolah dasar, masa belajarnya enam tahun, madrasah ini menggunakan sistem caturwulan sebagai satuan waktu, disamping sistem guru kelas, dapat pula di laksanakan di laksankan sistem guru bidang studi yaitu meliputi:

1. aqidah ahklak

2. al-qur’an hadits

3. ibadah syri’ah

4. sejarah islam

5. bahasa arab

6. PPKN

7. bahasa indonesia

8. ilmu pengetahuan sosial

9. matematika

10. ilmu pengetahuan alam

b. madrasah tsanawiyah.[7]

Madrasah ini melaksanakan pendidikan sistem kelas dan sistem caturwulan sebagai satu waktu. Di samping itu madrasah ini dalam pengajarannya menggunakan guru sistem guru bidang studi dengan waktu setiap jam pelajarannya 45 menit, sedangkan program pendidikannya di susun dari tiga komponen yaitu:

1. program umum

2. program akademis

3. program keterampilan

c. madrasah aliyah.[8]

Madrasah ini menggunakan sistem kelas dan sistem catur wulan sebagai satuan waktu. Di samping itu madrasah aliyah menggunakan sistem guru bidang studi setiap jam pelajaran di sediakan waktu 45 menit.

Madrasah aliyah terdiri dari lima jurusan yaitu:

1. jurusan ipa

2. jurusan ips

3. jurusan bahasa

4. jurusan agama/syari’ah

5. jurusan peradilan agama/qada

seperti pada madrasah tsanawiyah program pendidikan pada aliyah tersusun pula atas program umum, program akademis dan program keterampilan.

2.3.1.3. al-jami’ah al-islamiyah.[9]

Mengenai kurikulum al-jamiah al-islmiyah ini, sebagai contoh di kemukakan kurikulum IAIN (institut agama islam negeri), IAIN merupakan lembaga pendidikan islam tinggi negeri di bawah pengelolaan departemen agama R.I IAIN memiliki lima fakultas yaitu:

a. fakultas dakwah

b. fakultas tarbiyah

c. fakultas ushuluddin

d. fakultas adab

adapun struktur kurikulum inti dalam ketentuan yang berlaku ada tiga macam yaitu:

a. MKU = mata kuliah umum

b. MKDK = mata kuliah dasar keahlian

c. MKK = mata kuliah keahlian

mengenai kurikulum inti IAIN sebagai mana tersebutdiatas pelaksanaannya telah di sahkan dengan surat keputusan menteri agama R.I No. 27 Tahun 1995.

2.3.2. Pondok Pesantren

mengenai pondok pesantren penyelenggaraan pendidikannya tidak menggunakan sistem kelas seperti halnya madreasah melainkan berorientasi pada ilmu dan kitab yang di bahas oleh santritersebut, tetapi lebih tinggi tingkatannya begitu seterusnya sehingga ia mencapai kepada kitab yang tertinggi.[10]

Selanjutnya dengan adanya ide pembaharuan dari departemen agama R.I sejak tahun 1980, diadakanlah perbaikan sistem pendidikan dan penambahan mata pelajaran yang harus di pelajari santri.

Pesantren di nbina menjadi tiga tipe:

a. perintisan

b. pengembangan kejuruan lingkungan

c. pengembangan kejuruan koprehensif.[11]

2.4. PENDIDIKAN ISLAM DALAM SATU SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Salah satu sarana yang efektif untuk membina dan mengembangkan manusia dalam masyarakat adalah pendidikan yang teratur, rapi, berdatya guna dan berhasil guna, maka pendidikan islam di negeri kita pun perlu di organuisasikan dan di kelola secara rapi, efektif dan efisien melalui sistem dan metode yang tepat guna dan berhasil guna pula.[12]

Sejalan dengan pola pikir tersebut di atas, GBHN terutama TAP/MPR/11/1988, telah menetapkan bahwa manusia indonesia yang berkualitas tinggi melalui berbagai bidang pembangunan yang salah satu sektornya adalah pendidikan sistem dan mertode pendidikan islam yang seharusnya.[13]

  1. sistem adalah suatu kese luruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang masing-masing bekerja sendiri dalam fungsinya.

Karena itu sistem pendidikan adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan.

  1. faktor atau unsur yang di sistematisasikan adalah proses kegiatan kependidikan dalam upaya mencapai tujuannya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui proses kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Dengan demikian, sistem pendidikan khususnya islam, secara makro merupakan usaha pengorganisasian proses kegiatan kependidikan yang berdasarkan ajaran islam dan pendekatan sistematik, sehingga dalam pelaksanaan operasionalnya terdiri dari berbagai sub sistem dari jenjang pendidikan pra dasar(misal B.A),menengah atau perguruan tinggi yang memiliki vertikalitas dalam kualitas keilmu pengetahuan dan ke teknologian yang makin optimal, yang mana setiap tingkat, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah akan meninggikan derajat lebih tinggi orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang telah di tetapkan dalam tap-tap MPR, te5rutama Tap. MPR/111988. yang merupakan aspek utama dari tujuan nasional, maka tugas dan fungsi pendidikan agama adalah membangun fondasi kehidupan pribadin bangsa indonesia, yaitu fondasi mental rohaniah yang berakar pada faktor keimanan dan ketqwaan yang berfungsi sebagai pengendali, dan dan pengokoh jiwa bangsa melalui pribadi-pribadi yang tahan banting dalam segala cuaca perjuangan.[14]Seorang pakar pendidikan islam menyatakan bahwa manusia yang beriman dan bertaqwa adalah manusiayangmenyadari posisinya di ntengah-tengah alam semesta, menyadari tugasnya sebagai khalifah Tuhan di bumi.[15]

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

berdasarkan penjelasan di depan, jelaslah bahwa pendidikan islam dapat menyumbang penanaman iman, suatu yang di inginkan oleh pendidikan nasional. Budi luhur kemandirian, kesehatan rohani adalah tujuan pendidikan nasional, yang juga merupakan tujuan utama pendidikan islam, tanggung jawab kemasyarakatan bukan sekedar slogan di pendidikan islam. Penulis menyaksikan sendiri pelatihan dan penanaman rasa tanggung jawab social di beberapa pendidikan islam yang penulis pelajari. Pendidikan pengetahuan dan keterampilan memang kurang banyak di berikan di pendidikan islam, agaknya inilah tugas utama sekolah formal dan kursus-kursus dalam masyarakat. Dengan demikian, jelaslah bahwa sumbangan pendidikan islam bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional cukup besar. Maka dari itulah kita harus mendukung pendidikan islam yang sudah berorientasi pada kehidupan yang lebih moderen dan lebih terbuka seperti lembaga nahdlatul ulama, muhammadiyah ,dan al-irsyad yang mana peranan mereka telah cukup menghasilkan pemuda-pemuda masa depan yang siap terjun di era globalisasi.

3.2. SARAN

sehubungan dengan penulisan makalah di atas tentunya banyak berbagai hal yang mungkin tidak sesuai dengan pemahaman para pembaca, karena kami kami menyadari bahwa kami hanyalah manusia biasa yang tidak akan menghindar dari salah dan dosa, maka apabila sang pembaca menemukan ketidak sesuaian dari makalah ini kami mohon maaf, dan berharap suatu saran dan kritik yang membangun dari sang pembaca sesuai dengan kaidah yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Djamaluddin,Drs. Kapita Selekta Pendidikan Islam. 1999. Bandung. Pustaka setia

Uhbiyati,Nur. Ilmu Pendidikan Islam. 1996. Bandung. Pustaka setia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: