PENDIDIKAN ISLAM DALAM RUMAH TANGGA

Januari 6, 2009 at 4:10 am (Uncategorized) ()

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Al Qur an adalah kitab suci yang Allah swt turunkan kepada umat manusia agar dijadikan sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu Al Quran penuh dan sarat dengan petunjuk dan tuntunan yang mencakup seluruh aspek dan sektor kehidupan manusia. Termasuk di dalamnya adalah petunjuk dan tuntunan dalam membangun kehidupan rumah tangga.Setiap manusia pasti menginginkan memiliki kehidupan rumah tangga yangharmonis yang di dalamnya terdapat sakinah, mawaddah dan rahmah, ada ketentraman,kedamaai serta cinta dan kasih sayang yang tumbuh sumbur di dalamnya sehinggatercipta rumah tangga yang harmonis.
Diantara petunjuk dan tuntunan Allah swt yang terkait dengan kehidupan rumahtangga adalah firmanNya yang terdapat di dalam surat Annisa’ ayat 19 dan 20.Selanjutnya akan di bahas dalam pembahasan makalah berikut ini;

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pendidikan dalam rumah tangga perspektif surat An-Nisa Ayat 19-20?
2. Bagaimana Asbabun-Nuzul surat An-Nisa Ayat 19-20 tentang pendidikan dalam rumah tangga?
3. Apa makna muasyaroh bil ma’ruf dan hukum bergaul dengan istri?

C. TUJUAN
1. Mengetahui pendidikan dalam rumah tangga perspektif surat An-Nisa Ayat 19-20.
2. Mengetahui asbabun nuzul surat An-Nisa Ayat 19-20 tentang Pendidikan dalam Rumah Tangga.
3. Mengetahui makna muasyaroh bil ma’ruf dan hukum bergaul dengan istri.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan dalam rumah tangga perspektif surat an-nisa ayat 19-20

Tafsir Surat Annisa’ ayat 19 dan 20

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita denganjalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambilkembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bilamereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. dan bergaullah dengan mereka secarapatut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karenamungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. [19] Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain , sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata ? [20]

Makna Mufrodat Ayat
كرها. Al masyaqqoh/ kesulitan yang menimpa manusia dari luar secara paksa dan
menyebabkan tidak menyenangkan. (Al Asfahani, Al mufrodat, hal 429) Maksudnya mereka (ahli waris laki-laki) dipaksauntuk mempusakai para wanitanya atau para wanita dipaksa untuk dijadikan sebgai hartapusaka.
تعضلو Asal kata ini adalah: ’adholah daging keras yang tumbuh pada otot. Maksudnyaadalah menjadi penghalang yang menghalangi wanita untuk menikah. Ayat ini ditujukan kepada para suami atau kepada para orang tua/ wali.( Ar Roghib, hal 338)
فحشة مبينة Adalah segala sesuatu yang sangat besar keburukan/ kejelekannya, baikberupa ucapan atau perbuatan. .( Ar Roghib, hal 373)
Sedangkan yang dimaksud pada ayat ini adalah perbutanzina atau nusyuz dan termasuk ucapan yang buruk kepada suami, menyakitinya, marahkepadanya serta maksiat kepadanya.
عا شرو Dari kata Asyiroh atau ’Usroh, secara bahasa artinya berinteraksi (al Mukholatoh)dan kata ’asyir berarti qorib (orang dekat), kawan dan pasangan.
المعروف Yang dapat diterima secara tabiat dan tidak bertentangan dengan syariat,budaya dan kehormatan (seseorang).
كثيرا خيرا Kebaikan yang banyak. Diantara bentuk kebaikan itu adalah seperti yangdikatakan Ibnu Abbas: anak yang soleh.( Al Mawardi, 466) yang mendoakan kedua orangtuanya saatmereka telah kembali keharibaan Allah
قنطارا Berasal dari kata Qontoro Ar rojulu, artinya orang itu memiliki harta yang besar.Ada yang menaksir sekitar 40 uqiyah, 1 uqiyah = 5 dinar, 1 dinar = 4,25 gram emas. Adajuga yang mengatkan 1200 dinar, ada juga yang berpendapat jumlah yang tidak terbatas.Pendapat lain satu kantong yang terbuat dari seekor kulit sapi berisi dinar/ kepinganemas. Dalam hadits ”Qinthor = 12.000 uqiyah …”( Ibnu Al Manzhur, 3428)
Berdasarkan kata inilah seorang wanita pernah protes kepada Umar bin Khattab ra yang membuat kebijakan membatasi nilai mahar. Suatu ketika Umar ra naik ke atas mimbarnya Rasulallah saw seraya berkata: ”Wahai manusia betapa mahalnya mahar yangkalian tetapkan bagi wanita! Padahal Rasulallah saw dan para sahabatnya dahulumaharnya hanya sekitar 400 dirham atau kurang (dalam riwayat lain 12 uqiyah). Seandainyanya banyaknya mahar adalah bentuk taqwa kepada Allah atau kemuliaan, niscaya kalian tidak akan mampu menandingi mereka. Aku beritahukan bahwa mahar seseorang untuk wanita tidak boleh lebih dari 400 dirham”. Kemudian beliau turun dariatas mimbar. Tiba-tiba seorang wanita bangsawan Quraisy protes seraya berkata: ”WahaiAmirul mukminin, kamu melarang manusia untuk memberikan mahar lebih dari 400dirham?”. Umar menjawab: ”Ya”. Wanita itu berkata: ”Tidakkah apa yang Allahturunkan dalam Al Qur’an?”. Umar bertanya: ”Apa itu?”. Wanita itu berkata: ”tidakkahkamu mendengar firman Allah ”… dan kamu memberikan kepada kepada merekaqinthor..”. Umar berkata: ”Ya Allah maafkanlah, semua manusia dapat lebih mengerti dari pada Umar”. Kemudian beliau kembali ke mimbar dan berkata: ”Wahai manusia tadi aku melarang kalian untuk memberikan mahar lebih dari 400 dirham. Siapa yang hendakmemberi hartanya sesuai dengan keinginannya silakan saja”. (Mukhtashor Ibnu Katsir, 369)
بهتنا Dari kata Buhtun artinya kebatilan yang mencengangkan/ mengherankan(Al Baqoroh ayat 258) ataujuga bisa berarti kedustaan. Pada ayat ke 19 Allah swt menyeru orang-orang yang beriman untuk meninggalkan budaya jahiliyah karena budaya jahiliyah adalah budaya yang tidak bermartabat dan sarat dengan kezaliman. Diantara budaya jahiliyah tersebut adalah merendahkan martabat wanita dan melecehkan kehormatan mereka dengan menjadikannya sebagai sebagai barang pusaka secara paksa, mengahalang-halangi mereka untuk berumah tangga, tidak memenuhui hak mahar mereka, mengambil mahar mereka , memperlakukan secara semena-mena dan membenci mereka tanpa alasan yang jelas atau karena di sebabkan personan-persoalan kecil dan sepele. Bahkan seruan ini merupakan konsekwensi iman dan mengikat. dan perbuatan-perbuatan tersebut bisa menjadi haram dan berdoasa apabila dilakukan.
Allah swt juga memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memperlakukan para wanita khususnya para istri dengan ma’ruf, kebaikan yang bersifat standar menurut syariat dan yang berlaku pada masyarakat setempat. Terutama dalam memberikan nafkah yang mencakup sandang, pangan dan papan serta ma’ruf dalam cinta dan sayang dalam kehidupan suami istri. Seperti yang dicontohkan baginda Rasulallah saw dalam kehidupan rumah tangganya. Ibnu Katsir menuturkan dalam tafsirnya: ”Diantara akhlak mulia Nabi saw adalah sangat baik hubungannya dengan keluarganya. Beliau selalu senyum, bercanda , ramah, memberi nafkah yang cukup, menghibur istri-istrinya. Bahkan beliau pernah memenangkan lomba lari dengan Aisyah ra. Seperti yang dituturkan Aisyah ra. Rasulallah saw perna lomba lari denganku, akupun dapat mengalahkannya. Waktu itu aku belum gemuk. Ketika aku gemuk beliau dapat mengalahkanku. Beliau berkata, sekarang seri. Beliau juga mengumpulkan istri-istrinya di rumah istri yang kedapatan giliran. Kadang dilanjutkan dengan makan Isya bersama, setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Beliau tidur bersama istrinya dengan moto yang sama.
Dengan beralaskan sorban, beliau tidur dan menggunakan sarung. Apabila telah selesai Isya, beliau pulang ke rumah dan berbincang-bincang sejenak dengan keluarganya sebelum pergi tidur. Dan beliau sangat menikmati semua itu.( Ibnu Katsir, 369. Said Hawwa, Al Asas, 1208)
Allah swt juga memerintahkan orang-orang yang beriman untuk melihat kemaslahatan yang besar dalam meembangun kehidupan rumah tangga yang harmonis serta hikamah di balik setiap peristiwa dan dinamikanya. Karena bisa jadi dibalik peristiwa dan dinamika kehidupan rumah tangga yang terkadang tidak menyenangkan, meresahkan, memancing emosional ternyata disana ada dan menyimpan sejuta kebaikan.
Oleh karena itu diperlukan juga kesabaran, kedewasaan dan kebesaran jiwa dalam melihat dan mensikapi berbagai persolan rumahtangga. Rasulallah saw bersabda: ”Tidak boleh seorang mukmin berpisah dengan wanita mukminah. Jika ada akhlak yang tidak menyenangkan maka disana ada yang lain yang menyenangkan”
Pada ayat ke 20 Allah swt membolehkan seorang suami untuk menceraikan istri kalau memang sudah tidak mungkin lagi untuk tetap bersatu. Sekalipun perbuatan talak ini adalah sesuatu yang dibenci. Sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits ”Abghodu al halal indallah at tholak”. Kemudian dipersilakan untuk menikah lagi. Namun jangan sampai menyakiti wanita yang dicerai tersebut diantaranya dengan mengambil mas kawin yang telah diberikannya. Sebagaimana dahulu ketika meminangnya dengan baik, maka saat melepasnya/ menceraikannyapun harus dengan cara yang baik. Bahkan pada ayat ini Allah mengisyaratkan bahwa harga diri seorang wanita sangat mahal dan suami yang baik adalah yang mau menghargai wanita istri/ calon istrinya dengan mahal. Karena kata ’qintor’ dalam bahasa Arab bisa berarti harta yang banyak yang tak terhingga. Bahkan sebagian orang/ mufassir memberikan ilustrasi berupa emas sebesar kerbau/ sapi.
Begitulah Islam sangat menghargai dan mengangkat derajat kaum wanita dari kerendahan nilai jahiliyah tidak seperti yang dituduhkan kaum femenisme dengan isu gendernya yang penuh dengan kebodohan, kedustaan dan kedengkiannya terhadap ajaran Islam. Semoga Allah memberi petunjuk mereka ke jalan yang benar.

B. Mengetahui Asbabun Nuzul surat an-nisa ayat 19-20, tentang pendidikan dalam rumah tangga
Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat ini;
1. Riwayat Bukhori
Ibnu Abbas berkata:
”Dahulu, apabila seseorang meninggal dunia, maka para walinya (keluarga pihak suami) akan menguasai istrinya. Jika mereka berkehendak, mereka dapat menikahinya untuk dirinya atau menikahkannya kepada orang lain atau tidak menikahkan kepada siapapun. Mereka lebih berkuasa ketimbang keluarganya. Maka turunlah ayat ini ’Wahai orang-orang yang beriman tidak halal bagimu untuk mempusakai wanita dengan cara paksa…”. ibnu Abbas juga berkata: ”Seorang laki-laki dahulu mewariskan perempuan kerabatnya. Kadang ditahannya hingga mati atau ia harus mengembalikan mahar yang pernah diterimanya. Maka Allah menjelaskan hukumnya”. (Bahwa hal itu dilarang.) Ibnu Abbas juga berkata: ”Seseorang apabila meninggal dunia dan meninggalkan seorang wanita, maka teman dekatnya (kerabat) akan melemparkan bajunya kepadanya. Maka diapun dilarang berhubungan dengan manusia. Apabila cantik, maka ia akan menikahinya, apabila buruk rupa maka akan ditahan/ ditawan hingga mati, maka ia akan menjadi ahli warisnya.”
2. Mujahid berkata
”Apabila seorang meninggal, maka anaknya berhak memiliki istrinya. Boleh dinikahi apabila ia bukan anaknya langsung atau ia menikahkannya kepada lakilaki pilihannya, bisa dari kalangan saudaranya atau keepenokannya”
3. Ikrimah berkata:
”Ayat ini diturunkan terkait dengan Kabsyah binti Ma’an bin Ashim bin Aus.
Beliau ditinggal mati oleh suaminya Abu Qois bin Aslat. Tiba-tiba anaknya ingin menguasainya. Maka beliau datang kepada Rasulallah saw, seraya berkata: ”Ya Rasulallah, aku tidak mendapatkan warisan suamiku dan aku juga tidak dipusakai sehingga aku dapat menikah”. Maka Allah swt menurunkan ayat ini.

C. Makna Muasyaroh Bil Ma’ruf dan Hukum Bergaul Dengan Istri
Muasyaroh bil makruf berdasarkan ayat di atas adalah kewajiban suami yang harus dilaksankan dan sekaligus hak istri yang harus dipenuhui. Menurut penulis Kasful Qona’ bahwa muasyarah bil maruf adalah hubungan suami istri yang mesra dan akrab dimana masing-masing pasangan memperlakukan yang lainnya dengan persahabatan baik, tidak menyakiti, tidak mengabaikan haknya saat memiliki kemampuan untuk memenuhuinya, tidak menampakkan kebencian atau ketidaksukaan saat menerima pemberiannya, justru menerimanya dengan senang dan senyum serta tidak mengungkit pemberian dan menyakiti.
Sedang DR Wahbah mengatakan ”Termasuk muasyarah yang baik adalah tidak menyatukan dua istri dalam satu rumah kecuali atas keridloan keduanya. Karena ini tidak termasuk muasyaroh bil ma’ruf dan akan menimbulkan pertikaian. Termasuk juga adalah tidak melakukan hubungan badan dihadapan pasangan yang lain, karena ini adalah perbuatan nista dan mu’asyarah yang buruk. Termasuk juga di dalamnya adalah ’menikmati’ (istimta’) dengan ma’ruf yaitu apabila istrinya berfisik kurus dan tidak sanggup menahan beban dalam berhubungan badan maka tidak boleh dilakukan karena hal itu berarti menyakiti (idlror)”.
Disamping berdasarkan ayat di atas, ada juga beberapa hadits Nabi Muhammad saw yang menjelaskan kewajiban suami dan hak istri dalam kontek muasyaroh bil ma’ruf. Hadits tersebut antara lain(As Syaukani, Nailu Al Author, 206)
1. ”Perlakukan lah wanita itu dengan baik. Sesungguhnya mereka itu disisi kalian
bagaikan tawanan kalian tidak punya hak memiliki selain itu, kecuali mereka melakukan fahisyah mubayyinah (kesalahan yang jelas). Kalau memang itu mereka lakukan, maka tinggalkan mereka dari tempat tidur, pukul mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Apabila mereka telah kembali mentaati kalian, janganlah kalian mencari-cari kesalahannya”
2. ”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istri dan anak)dan aku adalah (suami) yang paling baik terhadaop keluargaku”Diantara bentuk muasyaroh bil makruf adalah
a. Memenuhui kebutuhan biologisnya (Nafkah batin)
Diantara tujuan pernikahan adalah memenuhui kebutuhan biologis bagi kedua pasangan, sesuai dengan fitrah manusia. Oleh karena wajib hukumnya bagi suami untuk memenuhi kebutuhan biologis istrinya, apabila memang tidak ada uzur. Hukum ini sebagaimana dikemukan oleh Ulama Malikiyah, Hanabilah dan Syafiiyah. Sekalipun Imam Syafi’i mengatakan hukum wajibnya hanyalah sekali. Sedangkan Al Ghozali mensunahkan 4 hari sekali. Sedangkan menurut mazhab Hambali, wajib bagi suami untuk memenuhui kebutuhan biologis istri 4 bulan sekali, apabila tidak ada uzur. Dan apabila suami pergi safar lebih dari 6 bulan tanpa keperluan yang jelas,maka istri berhak memaksanya untuk pulang. Hal ini sebagaimana riwayat Umar bin Khattab, dimana suatu malam ia mendengar senandung seorang wanita kesepian ditengah malam karena ditinggal dinas suami. Senandung itu berbunyi Betapa panjangnya malam dan gulitanya, Tanpa kekasih yang dapat diajak canda Demi Allah ! Seandainya bukan karena takut dan malu Niscaya ranjang ini telah bergoyang Umarpun mencari tahu penyebabnya, ternyata suami pergi jihad di jalan Allah. Maka Umarpun mengirim seorang wanita untuk menemaninya dan mengutus seseorang untuk memanggil suaminya. Kemudian beliau bertanya kepada putrinya: ”Wahai putriku, berapa lama seorang wanita sabar menanti suaminya?” Hafshoh berkata: ”Subhanallah ! orang sepertimu menanyakan hal seperti ini?” Umar berkata: ”Kalau bukan demi kepentingan umat Islam, niscaya aku tidak akan bertanya kepadamu”. Hafsah berkata: ”5-6 bulan”. Maka Umarpun membatasi tugas ke medan jihad hanya 6 bulan. Satu bulan untuk perjalanan pergi, 4 bulan untuk bermanufer dan satu bulan untuk perjanan pulang. Bahkan kalangan Hanafiyah mengatakan: ”Istri boleh meminta hal ini kepada suaminya, karena ini adalah haknya sebagaimana juga hak suami. Dan suami wajib memenuhui permintaannya”

b. Memenuhui kebutuhan hidupnya (Nafkah)
Disamping kewajiban suami memberikan dan memenuhui nafkah batin bagi istrinya sebagaimana dijelaskan di atas. Suami diwajibkan pula untuk memberikan dan memenuhui nafkah hidup bagi pasangannya berupa makan, pakaian dan tempat tinggal. Hal ini berdasarkan, Al Qur’an, sunnah, ijma’ dan akal sehat.
Adapun firman Allah swt yang mewajibkan suami memberikan nafkah hidup kepada pasangannya adalah:
             
dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
                                                                 
”Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan”.( QS. At Tholaq ayat 6-7)
Adapun sabda Nabi Muhammad saw, diantaranya ”Bertaqwalah kalian dalam (memperlakukan) istri, sesungguhnya mereka itu (bagaikan) tawanan yang ada pada kalian. Kalian telah mengambilnya dengan amanah Allah dan menghalalkan kemaluannya dengan kalimatullah. Dan mereka punya hak atas kalian berupa makan dan pakain yang ma’ruf (pantas dan layak)”.( HR. Muslim)
Bahkan Rasulallah saw membolehkan seorang istri untuk ”mencuri” harta suami demi memenuhui kebutuhan hidupnya secara wajar. Dari Aisyah ra, bahwa Hindun binti Utbah berkata: ”Ya Rasulallah, Abu Sufyan (suaminya) adalah laki-laki yang kikir. Dia tidak memberi makan kepadaku dan anakku kecuali dengan cara aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya”. Rasulallah saw berkata kepadanya: ”Ambilah yang dapat mencukupimu dan anakmu dengan ma’ruf (wajar)”.( HR. Bukhori)
Adapun ijma’, Ibnu Quddamah berkata: ”Para ulama sepakat bahwa para suami wajib memenuhui nafkah istri-istrinya ”.( Sabiq,148)
Adapun secara logika, bahwa seorang wanita tertahan oleh suaminya begitu terjadinya akad. Dia terlarang bekerja karena harus konsen dalam memenuhui hak suami. Maka wajib bagi suami untuk memberikan nafkah yang dapat memnuhui kebutuhannya. Kadar Nafkah Hidup
1) Makan dan minum
Jumhur ulama pada umumnya berpendapat bahwa makan dan minum yang harus dipenuhui oleh suami disesuaikan dengan keadaan ekonominya dan kebutuhan pangan yang pantas dan layak (standar umum yang berlaku pada masyarakat setempat) atau menurut penulis makanan yang memenuhui standar empat sehat lima sempurna sekalipun tidak idial. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt di atas dan kasus Hindun bin Utbah. Dengan kata lain suami tidak terlalu pelit untuk memberikan nafkah kepada keluarganya sehingga tidak memenuhui standar gizi sehat. Juga tidak berlebihan sehingga menjurus kepada gaya hidup hedonisme sehingga terjebak kedalam sikap mubazzir atau berlebih-lebihan, padahal masih banyak kaum muslimin yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dan nafkah ini dapat diberikan secara harian, pekanan atau tahunan. Namun menurut kalngan Syafiiyah dan Hanabilah menganjurkan untuk diberi secara harian atau sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Menurut hemat penulis memberi nafkah harian lebih baik dan diberikan pada waktu, karena hal ini terkait dengan hadits Nabi saw bahwa setiap pagi ada dua malaikat yang turun menemui manusia. Malaikat yang satuu berdo’a : ”Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang meberikan nafkah” dan yang satunya lagi berdo’a: ”Ya Allah ludeskanlah orang yang kikir”
2) Pakaian
Ulama sepakat bahwa suami wajib memberikan pakaian kepada istri dan anaknya dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi suami, sesuai dengan ayat dan hadits di atas. Sekalipun mereka berbeda pendapat tentang jenis pakain dan dalam rentang waktunya. Namun menurut hemat penulis dewasa ini istri memiliki kebebasan yang penuh dalam menentukan pakaian yang pantas dan layak baginya disamping suami tidak ingin direpotkan dalam memilihkan pakain. Namun prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa pakain yang dimiliki istri harus yang menutup naurat, kecuali pakaian yang hanya dikenakan dihadapan suami atau di rumah saja. Dan prinsip yang kedua, tidak berlebih-lebihan dalam membeli pakaian sehingga terjebak ke dalam konsumensarisme yang sangat bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
3) Tempat tinggal
Tempat tinggal juga merupakan kewajiban suami untuk menyediakannya, berupa rumah yang layak huni, baik dengan cara membelikannya, menyewakannya, mewakafkannya atau sekedar meminjamkannya. Dan ini juga disesuaikan dengan kondisi ekonomi suami. Sudah barang tentu rumah dengan perabotan rumah tangga yang diperlukan. Kalau kondisi ekonomi suami baik atau sang istri sedang sakit, maka suami harus menyediakan pembantu, jika tidak maka suami harus membantu pekerjaan-pekerjaan istri sebagai bentuk mu’asyaroh bil ma’ruf yang diperintahkan agama.( Al Fiqh Al Islami, 798-806)
c. Berlaku adil bagi yang memiliki istri lebih dari satu
Bagi suami yang memiliki istri lebih dari satu, wajib berlaku adil kepada para istrinya menurut jumhur ulama dalam dua masalah, bermalam dan nafkah hidup. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan Allah29 dan hadits Rasulallah saw. Diantaranya hadits yang diriwayatkan Aisyah ra bahwa Rasulallah saw berlaku adil, lalu seraya berdo’a: ”Ya Allah, inilah caraku membagi apa yang aku miliki, janganlah Engkau mencela apa yang Engkau miliki sedangkan aku tidak memilikinya”. Turmudzi mengomntari yakni cinta dan kasih sayang.30 Dari Abu Hurairoh ra dari Nabi saw bersabda: ”Siapa yang memiliki dua istri, lalu ia cendrung kepada yang satu, nanti pada hari kiamat ia datang dalam keadaan lambungnya miring sebelah”.

BAB III
KESIMPULAN
Islam adalah agama yang sangat besar perhatiannya terhadap pesoalan-peroalan kewanitaan, terutama yang terkait dengan hak-haknya dan kehidupan rumah tangga. Agar teripta kehidupan rumah tangga yang harmonis, mawaddah dan rahmah. Cinta dan kasih sayang. Sehingga implikasinya akan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Islam adalah agama solusi dan antisipasi dari persoalan-persoalan yang sedang dan akan muncul dikemudian hari. Seperti pada syariat pologami yang dibenarkan Islam. Pelaksanaan poligami harus dilihat dari berbagai dimensi dan pertimbangan, sehingga tujuan dan filosafi dari pembolehan poligami itu dapat terwujud. Dampak negatif yang kadang muncul dari akibat poligami, bukan berarti harus menghapus hukum bolehnya poligami. Menetang apa yang dibolehkan syariat adalah merupakan tindakkan yang dapat membatalkan keimanan seseorang.
Jahiliyah adalah sebuah sitem dan nilai yang sangat menistakan dan melecehkan kaum permpuan serta hak-haknya. Oleh karena itu jangan pernah berfikir untuk meninggalkan Islam, karena lawan kata dari Islam adalah jahiliyah

Daftar Pustaka
Al Qur’an Al Karim
Amin Summa, Muhammad, Prof, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, PT Raja
Grafindo, Jakarta, tahun 2004
As Shobuni, Muhammad Ali, Mukhtashor Ibnu Katsir, Dar Al Quran Al Karim, Beirut, estacan ke 7, tahun 1981
Al Asfahani, Al Husain bin Muhammad Ar Roghib, Al Mufrodat fi Ghorib Al Qur’an,
PT Musthofa Albabi Al Halabi, Medir, cetakan akhir, tahun 1961 estacan ke 7, tahun 1981
As Syaukani, Muhammad bin Ali bin Muhammad, Nailu Al Autor, PT Musthofa Albabi Al Halaba, cetakan akhir, tanpa tahun
Sabiq, As Sayyid, Fiqh As Sunnah, Dar Al Fikr, Beirut, cetakan ke 4, tahun 1983

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: